Berkarakter Baik, Mengapa Tidak?

ARTIKEL KARAKTERPagi itu, hari senin, Eno, seorang pelajar kelas XI SMAN 10 Pontianak bersiap untuk mengikuti upacara bendera yang rutin dilaksanakan setiap hari senin. Bagi beberapa siswa, upacara hari senin hanya membuat kaki pegal, tapi bagi Eno, upacara pengibaran bendera merah putih menjadi ajang untuk melatih disiplin pribadi.

Ya, disiplin jugalah yang hari itu dijadikan tema oleh Pembina upacara. Pada kesempatan itu, Pembina upacara, Bapak Jaka Sukarni mengingatkan kepada seluruh siswa agar selalu menegakkan disiplin sehingga tercapai  pribadi yang mempunyai karakter  baik.

Berbicara mengenai karakter, teringat sebuah artikel menarik yang diposting oleh seorang teman. Artikel tersebut menyebutkan bahwa negara Australia sekarang dikenal sebagai 10 negara terbaik untuk tempat tinggal. Selain itu, negara Australia termasuk negara dengan tingkat kriminalitas terendah di dunia dan tingkat korupsi yang sangat rendah. Padahal, berdasarkan sejarah, leluhur bangsa Australia adalah  tahanan yang dibuang dari Inggris. Mereka bertahan di benua kosong, yang dikenal sebagai Australia sekarang, dan berkembang menjadi bangsa yang maju.

Bagaimana dengan bangsa Indonesia? Leluhur bangsa Indonesia adalah orang-orang bebas yang menjunjung tinggi moral, orang yang sopan santun, ramah dan berbudi pekerti. Sekarang, Indonesia termasuk negara yang tidak aman untuk tinggal karena maraknya terorisme dan termasuk negara dengan tingkat korupsi yang tinggi. Mengapa? Artikel tersebut menyatakan bahwa semua berasal dari pendidikan.

Konon, guru di Australia lebih khawatir jika anak tidak dapat antri dengan baik, tidak dapat berlaku sopan, tidak membuang sampah pada tempatnya, tidak berlaku jujur, dibandingkan mereka tidak bisa berhitung, membaca dan menulis. Menurut mereka, untuk mendidik karakter diperlukan waktu 15 tahun, sedangkan untuk mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung hanya diperlukan waktu sekitar 3 sampai 6 bulan.

Mengajarkan membaca, berhitung dan menulis dapat dilakukan kapan saja, bahkan orang dewasa pun dapat mempelajarinya. Sedangkan mengajarkan karakter baik hanya bisa dilakukan pada saat balita sampai saat anak menginjak kuliah. Karakter yang sudah terbentuk saat  dewasa akan sulit sekali untuk berubah.

Bukti lain yang sejalan dengan artikel di atas adalah perkembangan bangsa korea. Korea adalah bangsa terjajah selama 30 tahun oleh Jepang. Tetapi, sekarang Korea menjadi bangsa yang mampu bersaing dengan Jepang berkat pendidikan karakter yang mereka terapkan dalam pendidikan.

Prof. Dr. Asep Sjamsulbachri, seorang guru besar di salah satu universitas di Bandung, mengatakan bahwa pendidikan karakter harus diajarkan sejak usia SD kelas 1 dan 2 dengan materi meliputi proper life (hidup secara baik), wise life (hidup secara bijak), dan pleasant life (hidup secara menyenangkan). Sedangkan pendidikan karakter sejak kelas 3 sampai kelas 10 diberikan dalam bentuk moral education (pendidikan moral), kelas 11 mendapat materi civil ethics (etika kewarganegaraan), dan kelas 12 mendapatkan materi ethics and thoughts (etika dan filsafat).

Sebenarnya pendidikan karakter sudah dikumandangkan jauh sebelum digembar gemborkan seperti sekarang ini. Presiden pertama RI, Ir. Soekarno pernah mencanangkan nation and character building agar bangsa kita tidak menjadi bangsa yang bermental terjajah.

Jadi, bagaimana dengan kita? Masihkah remaja punya kesempatan untuk mengubah karakter menjadi lebih baik? Pasti bisa. Inilah kesempatan kita untuk membiasakan berlaku disiplin, menghormati orang tua dan guru, berlaku jujur, tidak menyontek di sekolah, membuang sampah pada tempatnya, mematuhi aturan lalu lintas. Yuk! Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s